Beranda > Islamic > Hujjah Wajibnya Shalat Berjama’ah di Masjid bagi Laki-laki Muslim part2

Hujjah Wajibnya Shalat Berjama’ah di Masjid bagi Laki-laki Muslim part2

4. Larangan Keluar dari Masjid Setelah Adzan Diantara dalil yang menunjukkan wajibnya shalat berjama’ah adalah diharamkannya seseorang keluar dari masjid setelah adzan dikumandangkan, kecuali setelah menunaikan shalat jama’ah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu ia berkata: telah memerintahkan kepada kami Rasulullah: “Jika kalian berada di masjid, kemudian diseru untuk shalat (adzan), maka janganlah salah seorang kalian keluar hingga selesai shalat.” (HR. Ahmad; berkata Al Hafidz Al Haitsami: “Rawi-rawi imam Ahmad adalah rawi-rawi yang dipakai dalam kitab Shahih” . Oleh karenanya Abu Hurairah menganggap orang yang keluar dari masjid setelah adzan adalah orang yang bermaksiat. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Sya’tsa: “Kami duduk-duduk di masjid bersama Abu Hurairah. Kemudian dikumandangkanlah adzan. Tiba-tiba ada seseorang berdiri dan berjalan keluar dari masjid, maka Abu Hurairah mengikuti dengan pandangannya, seraya berkata: “Adapun orang ini telah bermaksiat kepada Abul Qasim (yakni Rasulullah).” Bahkan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam menyebut orang yang keluar dari masjid setelah adzan -tanpa adanya keperluan- sebagai munafik sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah seorang mendengarkan adzan di masjidku ini, kemudian dia keluar dari sana -kecuali ada keperluan-, kemudian tidak kembali lagi, kecuali ia munafiq.” . Berkata Imam Ibnul Mundzir mengomentari hadits Abu Hurairah di atas: “Kalau saja seseorang diberi kebebasan untuk meninggalkan shalat berjama’ah atau mendatanginya, maka orang yang meninggalkan sesuatu yang tidak wajib baginya tidak mungkin dihukumi demikian. Dikisahkan dalam Sunan Darimi, dari Abdurrahman ibnu Harmalah, bahwa dia menceritakan: Seseorang datang kepada Sa’id Ibnul Musayyib, untuk pamit pergi menunaikan haji atau umrah. Sa’id Ibnul Musayyib berkata: “Jangan engkau berangkat, sampai engkau shalat berjama’ah! Karena Nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam menyatakan: “Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan, kecuali munafiq; kecuali orang yang keluar untuk keperluannya kemudian kembali lagi ke masjid”. Orang itu menjawab: “Tapi teman-temanku menunggu di Harrah (padang batu di pinggir kota –pent.)”. Maka orang itu memaksa keluar. Sedangkan Sa’id Ibnul Musayyib terus menyesalkan orang itu dan terus menyebut-nyebutnya dengan kekesalan. Hingga sampailah berita, bahwa orang tersebut jatuh dari untanya dan patah tulang pahanya. 5. Diantara yang Menunjukkan Wajibnya Shalat Berjama’ah adalah Tidak Adanya Rukhshah (Keringanan) bagi Orang yang Buta. Maka Bagaimana dengan Orang-orang yang Masih Dapat Melihat dengan Normal? Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umi Maktum pernah meminta keringanan untuk tidak shalat berjama’ah di masjid dan mengemukakan berbagai macam udzurnya, diantaranya: 1. Buta matanya dan tidak adanya penuntunnya Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah bahwa seorang yang buta datang menemui Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki penuntun yang bisa menuntunku ke masjid”. Orang itu meminta keringanan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah pun mengizinkannya. Namun kemudian ketika orang itu berpaling, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam memanggilnya seraya berkata: “Apakah engkau mendengar panggilan untuk shalat?” Dia menjawab: “Ya”. Maka beliau Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau begitu penuhilah!” Dalam hadits di atas sangat jelas disebutkan bahwasannya Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam tidak memberikan udzur bagi orang yang buta tersebut, jika ia masih mendengar panggilan adzan. Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa dapat mendengar adzan adalah ukuran jarak rumahnya dari masjid. Jadi selama dia masih mendengar adzan, dia masih dianggap dekat dan tidak ada keringanan baginya. 2. Jauh rumahnya Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abdullah bin Umi Maktum bahwa dia meminta keringanan kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam dengan berkata: “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang buta dan jauh rumahnya. Sedangkan aku memiliki penuntun yang tidak selalu bersamaku. Apakah aku shalat di rumahku?” Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bertanya:”Apakah engkau mendengar adzan?” Ia menjawab: “Ya”. Maka beliau Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau begitu aku tidak mendapatkan rukhshah untukmu”. Dalam hadits ke-2 ini terdapat alasan yang ketiga di samping alasan buta dan tidak memiliki penuntun yaitu jarak rumahnya ke masjid jauh. Ibnu Khuzaimah ketika menukil hadits ini memberi judul babnya “Bab perintah bagi orang yang buta untuk mengikuti shalat jama’ah walaupun rumahnya jauh dari masjid, tidak ada penuntunnya yang mau menuntun ke masjid”: “Ini merupakan dalil bahwa shalat jama’ah adalah faridlah (wajib hukumnya)”. 3. Diantara rumahnya dengan masjid melewati kebun-kebun kurma dan semak belukar. Dalam riwayat lain bahkan disebutkan diantara rumah Abdullah ibnu Umi Maktum dan masjid terdapat pepohonan kurma dan semak belukar. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dalam riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin umi Maktum, bahwa ia berkata kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam, antara rumahku dengan masjid banyak pohon kurma dan semak belukar. Dan tidak ada orang yang dapat menuntunku. Apakah boleh bagiku untuk shalat di rumahku?” Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau mendengar iqamah?” Ia menjawab: “Ya”. Maka Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau begitu datangilah panggilan tersebut!” 4. Masih banyaknya binatang buas dan berbisa di sekitar kota Madinah Dalam hadits lain masih ada udzur lainnya pada Abdullah bin Umi Maktum, namun tetap tidak menjadikannya mendapatkan keringanan yaitu diantara masjid dengan rumahnya masih banyak binatang buas atau binatang berbahaya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Abdullah bin umi Maktum, bahwa ia mengatakan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kota Madinah ini masih banyak binatang-binatang buas dan binatang yang berbahaya. Maka Nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau mendengar hayya ‘ala shalah, hayya ‘alal falah? Kalau ya, maka segeralah engkau penuhi panggilan itu!” Ibnu Khuzaimah menyebutkan hadits ini dalam kitab shahihnya dengan judul “Bab perintah bagi orang yang buta untuk menghadiri shalat jama’ah walaupun ia khawatir terhadap binatang-binatang berbisa/buas jika menghadiri jama’ah”. 5. Dalam keadaan tua dan sudah renta. Udzur lainnya bagi Abdullah bin Umi Maktum adalah umur beliau. Di samping beliau buta, ia adalah seorang yang sudah tua renta. Sebagaimana diriwayatkan oleh Thabrani dari Abu Umamah. Ia berkata: Ibnu Umi Maktum datang -ia adalah seorang buta yang turun tentangnya ayat ‘Abasa wa tawalla an ja’ahul a’ma-, ia adalah seorang dari Quraisy datang kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai jaminan untukmu. Sungguh aku –sebagaimana yang engkau lihat—adalah orang yang telah tua umurnya, rapuh tulangku (renta), hilang pandanganku (buta), dan aku memiliki penuntun yang tidak cocok denganku, apakah engkau memiliki rukhsah untukku agar aku shalat di rumah?” Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau mendengar suara muadzin di rumah yang kamu tinggal di dalamnya?” Ia menjawab: “Ya”. Maka nabi pun bersabda: “Aku tidak memiliki keringanan untukmu. Sungguh kalau orang yang tidak hadir shalat jama’ah ke masjid itu mengetahui apa pahalanya orang yang berjalan menuju shalat jama’ah, niscaya ia akan mendatanginya walaupun merangkak dengan kedua tangan dan kakinya”. Berkata imam Ibnul Mundzir ketika memberi judul hadits-hadits ini dengan “Dzikrul Ijab Hudzuril Jama’ah ‘Alal ‘Umyan wain Ba’udat Manaziluhum ‘Anil Masjid wa Yadullu Dzalika ‘Ala anna Zuhudal Jama’ah Fardlu la Nadbun” (“Penyebutan tentang wajibnya menghadiri jama’ah atas orang yang buta walapun jauh rumahnya dari masjid. Yang demikian menunjukkan bahwa menghadiri shalat jama’ah adalah wajib, bukan anjuran)”. Beliau juga berkata: “Jika orang yang buta tidak mendapatkan udzur untuk meninggalkan shalat jama’ah, maka orang yang memiliki penglihatan normal lebih-lebih lagi. Tidak ada keringanan sama sekali baginya. Imam Al Khathabi berkata: “Dalam hadits ini ada dali bahwa menghadiri shalat jama’ah adalah wajib. Kalau saja shalat jama’ah itu hanya anjuran, maka yang lebih pantas untuk meninggalkannya adalah orang yang memiliki udzur dan kelemahan atau orang yang seperti Abdullah bin Umi Maktum. Dari hadits-hadits di atas, kita melihat ketegasan hukum wajibnya shalat berjama’ah. Kita melihat udzur-udzur yang ada pada Abdullah bin Umi Maktum sangat banyak, seperti buta, tua umurnya (renta), tidak ada penuntun, jauhnya rumah dari masjid, banyaknya pepohonan dan semak belukar, dan banyaknya binatang buas/berbisa. Namun meskipun demikian, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam tetap tidak memberikan keringanan untuknya meninggalkan shalat jama’ah. Tidak mungkin bagi seorang rasul Shalallahu’alaihi wa Sallam yang mulia dan sangat sayang kepada umatnya membiarkan seorang yang memiliki udzur-udzur di atas tanpa mendapatkan keringanan. Kecuali kalau perkara itu adalah suatu faridlah dan kewajiban yang telah Allah Subhaanahu wa Ta’ala tetapkan. Maka dengan alasan apa lagikah kaum muslimin meninggalkan shalat jama’ah ke masjid, padahal mereka dalam keadaan tidak buta, kuat badannya, muda umurnya, aman jalannya dan dekat rumahnya dengan masjid?

Kategori:Islamic
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: