Beranda > Islamic > Hujjah Wajibnya Shalat Berjama’ah di Masjid bagi Laki-laki Muslim part1

Hujjah Wajibnya Shalat Berjama’ah di Masjid bagi Laki-laki Muslim part1

Negri ini Negri 1000 Masjid

Alhamdulillah Masjid di negri ini termasuk bagunan yang paling yang mudah ditemukan, dari pelosok kampong, hingga kota-kota besar dengan beragam model dan ukuran. Masjid di Indonesia diperkirakan berjumlah hingga 800.000 masjid, terpaut jauh dengan jumlah masjid di zaman Nabi SAW. Namun jujur peranan, visi, dan misi masjid sekarang jauh ketimbang masjid generasi pendahulu!

Apa rahasianya? Yang jelas bukan kualitas semen, bahan bangunan atau kilapan keramiknya. Sungguh ironis, Masjid yang berdiri megah dengan gaya arsitektur yang mengagumkan tetapi di dalamnya hanya berisi kesunyian, nyamuk, tak ubahnya kuburan cina, sunyi akan semangat kebangkitan umat. Padahal, Masjid ibarat denyut nadi kehidupan umat Islam, yang selalu berdetak dan aktif menyebarluaskan dakwah Islamiyah.

Jangan dulu kita membayangkan masjid sebagai pusat kegiatan umat yang isinya penuh dengan kegiatan di segala bidang, baik Ibadah, Muamalah, Dakwah, dan lain-lain. Sholat yang merupakan salah satu kegiatan terpenting saja banyak ditinggalkan umatnya. Padahal Sholat adalah tiang agama, ternyata sholat berjamaah hanya diminati sekitar 50 orang saja. Sangat Ironis. Masjid Luas di tengah Umat Islam yang termasuk Mayoritas. Seperti kita ketahui segala Fasilitas Masjid sudah diusahakan sehingga para jamaah merasa nyaman untuk melaksanakan ibadah, mulai dari teersedianya tempat wudhu sampai tempat sholat yang sangat nyaman, berbeda sekali dengan Masjid Zaman Nabi SAW yang hanya berlantai pasir dan beratap pelepah kurma. Hal ini diperparah alas an untuk tidak sholat di Masjid yakni jauhnya jarak antara tempat tinggal dengan Masjid. Padahal kenyataannya, Masjid selalu ada di setiap Rukun Warga (RW), bahkan ditambah beberapa mushala. Sungguh tidak masuk akal bila Masjid ada di setiap RT?! (izzah Islam)

Kewajiban Shalat Berjamaah di Masjid

Shalat berjama’ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya..kecuali udhur yang telah ditetapkan…

Shalat lima waktu bersama jama’ah di masjid-masjid adalah sebesar-besar ibadah yang mulia. Telah disebutkan dalil-dalil dari Al Quran dan Sunnah tentang wajibnya shalat jama’ah tersebut. Diantaranya:

1. Perintah Allah Subhaanahu wa Ta’ala untuk Ruku’ bersama Orang-orang yang Ruku’.

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS.Al Baqarah: 43)

Berkata Hafidz Ibnul Jauzi ketika menafsirkan ayat tersebut: “Yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat”. (Zaadul Masir, 1/75)
Qadhi Al Baidhawi berkata: “Yakni bersama jama’ah mereka”. (Tafsir al-Baidhawi, 1/59)

Berkata Imam Abu Bakar Al Kisani: “Ini adalah perintah untuk ruku’ bersama-sama dengan orang-orang yang ruku’, dan ini menunjukkan adanya perintah untuk menegakkan shalat berjama’ah. Sedangkan perintah yang mutlak menunjukkan wajibnya perkara tersebut”.
(Bada’iu Ash-Shanai’i fi Tartiibi Asy-Syara’i, 1/155)

2. Perintah untuk Shalat Berjama’ah dalam Keadaan Khauf.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam dan para shahabatnya untuk shalat berjama’ah walaupun dalam keadaan khauf (genting), yaitu dalam situasi perang. Hal ini menunjukkan kalau shalat jama’ah merupakan perkara yang penting dan wajib.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat untuk mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (QS.An-Nisaa’: 102)

Berkata Ibnul Mundzir: “Ketika Allah perintahkan untuk shalat berjama’ah dalam keadaan khauf, tentunya dalam keadaan aman lebih diwajibkan”. (Al Ausath fi Sunani wal Ijtima’i wal Ikhtilafi, 4/135)

Kalau saja shalat berjama’ah tidak diwajibkan, tentu perang merupakan udzur yang sangat besar untuk meninggalkan shalat jama’ah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Sesungguhnya diperintahkannya shalat khauf bersama jama’ah dengan tata cara khusus yang membolehkan perkara-perkara yang pada asalnya dilarang tanpa udzur seperti tidak menghadap kiblat dan banyak bergerak -dimana perkara-perkara tersebut tidak boleh dilakukan jika tanpa udzur dengan kesepakatan para ulama-, atau meninggalkan imam sebelum salam menurut jumhur, demikian pula menyelisihi perbuatan imam seperti tetap berdirinya shaf belakang ketika imam ruku’ bersama shaf depan, jika musuh ada di hadapannya. Para ulama berkata: “Perkara-perkara tersebut akan membatalkan shalat jika dilakukan tanpa udzur. Kalau saja shalat jama’ah tidak diwajibkan namun hanya merupakan anjuran, niscaya perbuatan-perbuatan di atas membatalkan shalat, karena meninggalkan sesuatu yang wajib hanya karena sesuatu yang sunnah. Padahal, sangat mungkin shalat dilakukan oleh mereka secara sempurna jika mereka masing-masing shalat sendirian (bergantian). Maka jelaslah shalat berjama’ah merupakan perkara yang wajib”.

3. Perintah Nabi Shalallahu’alaihi wa Sallam untuk Mendirikan Shalat Berjama’ah.

Diriwayatkan dari Malik Ibnul Huwairits dia berkata: Aku mendatangi Nabi bersama beberapa orang dari kaumku. Kami tinggal di sisi beliau 20 hari. Sungguh beliau adalah seorang yang sangat lembut dan penyayang. Ketika beliau melihat bahwa kami sudah rindu dengan keluarga-keluarga kami, beliau berkata:

“Kembalilah kalian, tinggallah di tengah mereka, ajarilah mereka dan shalatlah. Jika telah datang waktu shalat, adzanlah salah seorang dari kalian dan hendaklah orang yang paling tua diantara kalian mengimami kalian!” (HR. Bukhari dalam Kitab Al Adzan).

Dalam riwayat lain, bahkan beliau memerintahkan untuk shalat berjama’ah walaupun jumlah mereka hanya 3 orang.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata: Berkata Rasulullah:
”Jika mereka bertiga, maka hendaklah mengimami mereka salah seorang dari mereka. Dan yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling pandai membaca Al Quran.” (HR. Muslim dalam kitab Al Masajid wa mawadhi’us shalah).

Berkata Ibnul Qayyim: “Sisi pendalilan hadits ini adalah perintah untuk berjama’ah. Dan perintah beliau menunjukkan wajib hukumnya”.

Yang lebih menunjukkan wajibnya shalat jama’ah adalah ketika Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam menyuruh orang yang safar untuk shalat berjama’ah sekalipun hanya berdua. Bersabda beliau Shalallahu’alaihi wa Sallam: “Jika kalian berdua bepergian, maka adzanlah salah seorang kalian kemudian dirikanlah shalat. Hendaklah mengimami kalian orang yang lebih tua diantara kalian!” (HR. Bukhari dalam kitab Al Adzan)

Sumber : http://www.facebook.com/?sk=messages&ref=mb#!/?page=1&sk=messages&tid=1222396611291

(by Eko MinistryofFinance March 10 at 11:33am)

Kategori:Islamic
  1. 12 Maret 2010 pukul 5:50 PM

    blog walking…
    Masya Allah nemuin artikel menarik..^^

    • Ahmad Yusuf Octamidakesri
      24 Maret 2010 pukul 3:02 AM

      ^_^…
      an cm copas dr group di FB, hehe.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: